Welcome
Login / Register

Search Results: waljinah


  • Beri Penghargaan, Lorin Datangi Rumah Waldjinah dengan Kereta/ PENGHARGAAN WALDJINAH

    SOLO – Bunyi kereta kuda perlahan terdengar dari kediaman musisi keroncong Waljinah di Jalan Parangcantel, Mangkuyudan. Lengkap dengan baju tradisional beskap dan kebaya, beberapa orang turun dari kereta kuda dan bersilaturahmi dengan pelantun lagu keroncong itu.

    Pada Sabtu (21/4/2012), Waljinah kedatangan tamu spesial. Mereka adalah General Manajer Lorin Hotel & Resort, Mudia Trianamaja, beserta beberapa stafnya. Pada kunjungan ini, Mudia memberikan penghargaan Hari Kartini kepada Waljinah terkait dengan kiprahnya sebagai musisi yang melestarikan musik keroncong.

    “Penerima penghargaan ini selalu dipilih secara selektif dengan kriteria khusus. Kami memilih Waljinah karena kegigihannya melestarikan keroncong. Tidak pindah di aliran musik lain, selalu konsisten,” jelas Mudia.

    ""

    Ini adalah kali ketiga Hotel Lorin & Resort memberikan penghargaan pada Hari Kartini. Sebelumnya sudah diberikan dua kali yaitu kepada kepada Rina Iriani selaku Bupati Karanganyar pada 2008 dan Irawati Kusumorasri sebagai pelestari budaya seni tari Jawa pada 2009.

    “Lewat penghargaan ini saya berharap bahwa kita selalu ingat perjuangan Kartini yang mengajak perempuan turut aktif mengisi kemerdekaan,” lanjut Mudia. Waljinah mengaku sangat terharu atas penghargaan yang diberikan. “Saya rasa ini jadi penghargaan paling spesial karena tidak ada yang pernah datang ke rumah saya pakai kereta kuda dan pakaian tradisional,” katanya.

    Menurut ibu empat anak ini, perempuan Indonesia kini telah mengalami kemajuan yang berarti. Tapi ia tak lupa berpesan agar perempuan janganlah kebablasan. “Kita harus tetap menghormati laki-laki.” Selama puluhan tahun berkarir dalam musik keroncong, lagu Walang Kekek jadi karya yang paling ia sukai. Selain penghargaan dari Hotel Lorin & Resort, Waljinah juga tak bisa melupakan penghargaan Bintang Radio pada tahun 1969 yang pialanya diberikan dari Bung Karno.

    Hingga saat ini, Waljinah masih rajin diundang untuk menyanyi baik di Solo, Semarang, hingga Jakarta. “Selain itu ya momong cucu,” kata nenek tujuh cucu itu.

    Read more »
  • Waldjinah

    Waldjinah (lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1945; umur 66 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia. Ia penyanyi spesialisasi keroncong - Jawa yang dikenal dengan julukan “Ratu keroncong”, yang mengawali karier sejak menjadi juara I Bintang Radio Indonesia tahun 1965.

    Pada awal karier, ia meluncurkan album “kompilasi” bersama penyanyi lain, yaitu album Elingo Beboyo Margo (1968) yang diisi bersama Enny Koesrini (juara Harapan Bintang Radio Indonesia 1967) dan Sri Rahadjeng. Banyak di antara albumnya dibuat dengan iringan Orkes Keroncong Bintang Surakarta yang dipimpinnya sendiri.

    WALDJINAH THE LEGEND
     
    Dilahirkan tanggal 7 Nopember 1945 dari keluarga sederhana yang tidak memiliki darah seni, tidak menghalangi seorang Waldjinah untuk menjadi Ratu Keroncong dan Pop Jawa. Ketertarikannya menyanyi berawal sejak ia mendengar alunan lagu Jawa klasik dari pabrik batik dimana ayahnya
    bekerja. Suatu ketika, Munadi, kakaknya yang kebetulan beristrikan seorang penyanyi, mendengar Waldjinah dengan luwes menyenandungkan lagu baru yang sedang dipelajari istrinya, padahal istrinya saja belum bisa. Mulailah Munadi mengajarkan Waldjinah menyanyi dan mempelajari lagu-lagu Keroncong. Di usia 12 tahun, Waldjinah sebagai peserta termuda, berhasil menjadi juara Festival Ratu Kembang Kacang yang diadakan RRI Surakarta di tahun 1958. Sejak itulah ia mendapat julukan Ratu Kembang Kacang.
     
    Sesudah itu banyak lagi penghargaan yang diperolehnya, antara lain yang paling berkesan adalah di saat hamil tua, ia menjadi Bintang Radio tingkat Nasional untuk kategori Keroncong pada tahun 1965, dimana Presiden Soekarno yang memberikan piala sekaligus nama Bintang untuk anak yang sedang dikandungnya.
     
    Dengan suaranya yang melengking namun jernih, Waldjinah sudah menghasilkan lebih dari 200 album dan 1.700 lagu, banyak diantaranya diiringi oleh OK Bintang Surakarta yang dipimpinnya sendiri. Rekaman pertamanya adalah duet dengan Gesang, lagu-lagu yang melambungkan namanya antara lain Walang Kekek (1968) sehingga ia juga sering dipanggil Si Walang Kekek.
     
     
    Ia bisa menyanyi apa saja, namun paling senang dengan keroncong, karena ia merasa cengkoknya paling pas di keroncong dan bisa lebih bebas daripada nembang macapatan.
     
    Walaupun sempat dilarang ibunya menyanyi, ternyata Waldjinah membuktikan dengan keroncong ia sudah membawa nama Indonesia sampai ke Singapura, Malaysia, Jepang, Suriname, China bahkan ke Yunani. Ia pun kerap berkolaborasi, bukan hanya dengan penyanyi keroncong seperti Mus Mulyadi, namun juga dengan penyanyi pop Chrisye.
     
    Kecintaannya pada keroncong pula membuat ia aktif di HAMKRI (Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia) dan menyiapkan regenerasi keroncong dengan membuka sekolah Keroncong gratis di garasi rumahnya.
     
    Sampai di usianya yang menjelang senja, Waldjinah tetap cantik dan memelihara suaranya dengan hidup relaks, puasa dan minum perasan kencur, jahe dan madu sebelum nyanyi.
     
    Daftar Lagu Waldjinah The Legend
     
    1 Walang Kekek (….. / Syair : Waldjinah)
    2 Bengawan Solo (Gesang)
    3 Saputangan (Gesang)
    4 Suwe Ora Jamu (….. / Syair : Waldjinah)
    5 Andheng Andheng (Gesang)
    6 Jembatan Merah (Gesang)
    7 Roda Dunia (Gesang)
    8 Bilamana Dunia Berdamai (Gesang)
    9 Dongengan (Gesang)
    10 Kecewa (Gesang)
    11 Pinggir Desa (Gesang)
    12 Jangkrik Genggong (Andjar Any)
    13 Kicir-Kicir (…..) - Oh, Sarinah ( ….. / Gesang) - Kuweh Sempe (…..) - Gethuk Lindri (Kasmo Budi Sartono) -Surilang (…..)
    14 Bengawan Solo (Gesang)
    15 Pamitan (Gesang)


    Waldjinah is a renowned diva in Indonesia and a leading exponent of the kroncong style.

    Waljinah was born into a poor family in Surakarta in 1945, the tenth child in her family. Her father earned a living as an artisan, painting batik cloth, and her mother sold food in the market. It was in the batik factory where her father worked that Waljinah heard the traditional Javanese songs that inspired her to become a singer. When she entered high school she developed an interest in kroncong and in 1958 she won first prize in a competition organised by the state-owned Radio Republik Indonesia in Surakarta. Since then her career has blossomed and she has become a household name, with over 200 albums to her credit. Her voice is heard on the radio daily and she makes numerous television appearances. She has recorded over 1500 different songs, with a repertoire ranging from traditional singing with gamelan, popular songs, kroncong and various other styles. 

    She has performed internationally in places such as the Netherlands, Japan, Singapore and Surinam, and in 2003, made her first appearance in Australasia at the 7th Wellington International Jazz Festival, pictured below. Accompanied by her kroncong ensemble,Bintang Surakarta, this performance was a collaborative project with Fracas Saxophone and Gamelan Padhang Moncar.

    Read more »
RSS